PEKANBARU, Nusantaramadani.id – Rasio apoteker di Indonesia masih jauh dari target ideal yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Saat ini jumlah apoteker nasional baru sekitar 130.000 orang, atau setara 0,3–0,4 apoteker per 1.000 penduduk. Padahal target yang disepakati Kemenkes bersama organisasi profesi adalah 0,91 apoteker per 1.000 penduduk.
Hal itu disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah XVII Riau-Kepri, Dr. Nofriadi, http://S.KM, saat menghadiri pengambilan sumpah 111 apoteker baru Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau angkatan XIV TA 2025/2026 di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Selasa 19 Mei 2026.
Di Provinsi Riau, kondisi juga belum ideal. Berdasarkan data SDM Kesehatan, terdapat sekitar 2.018 apoteker untuk melayani lebih dari 6,8 juta jiwa. Artinya rasio apoteker Riau baru menyentuh 0,30 per 1.000 penduduk. Persoalan lain yang muncul adalah maldistribusi, di mana apoteker masih menumpuk di kota besar sementara puskesmas di daerah terpencil kekurangan tenaga.
“Kehadiran apoteker baru angkatan XIV STIFAR Riau ini laksana angin segar dan amunisi baru yang sangat dinantikan untuk memperkuat ketahanan kesehatan di Riau,” ujar Nofriadi.
Ia mengapresiasi STIFAR Riau yang konsisten mencetak tenaga kefarmasian kompeten sejak berdiri. LLDIKTI XVII, kata dia, akan terus mendukung peningkatan mutu akademik, akreditasi, dan fasilitas agar lulusan mampu bersaing di era global.
Dalam kesempatan itu, Nofriadi berpesan kepada para apoteker baru agar menjaga integritas, terus berinovasi, dan mengabdi dengan hati. “Sumpah apoteker bukan sekadar seremonial, tetapi janji suci yang harus dipegang seumur hidup,” tegasnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Univ Riau, Prof. Dr. Sujianto, http://M.Si, turut mengapresiasi capaian STIFAR Riau yang mencatat kelulusan Uji Kompetensi Apoteker Indonesia 100% untuk dua periode berturut-turut. Dengan hasil itu, STIFAR Riau masuk klaster 1 dan berada di 30 besar program profesi apoteker nasional.
“Capaian ini luar biasa. Ke depan perlu ditingkatkan dengan penciri khusus agar lulusan STIFAR Riau menjadi idola di rumah sakit, apotek, maupun industri farmasi,” kata Sujianto.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi seperti artificial intelligence dan big data dalam mendukung farmasi modern, serta kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan.
Ketua STIFAR Riau, Dr. apt. Enda Mora, http://M.Farm, menyebut kelulusan 100% ini sebagai sejarah baru kampus. Ia berpesan agar para apoteker baru terus belajar, menjaga etika profesi, dan memberikan edukasi obat yang benar kepada masyarakat.
“Gelar apt. yang melekat di depan nama kalian adalah amanah besar. Gunakan ilmu dengan ikhlas di rumah sakit, puskesmas, apotek, maupun wirausaha,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Ketua IAI Pusat Dr. Iwan Yudha Taruna, http://M.Farm, memberikan motivasi kepada 111 apoteker baru. Ia mengingatkan bahwa peran apoteker sangat penting dalam mengedukasi masyarakat terkait obat, makanan, dan isu kesehatan yang berkembang, mulai dari vaksin palsu hingga penyalahgunaan narkotika.
Hadir dalam acara tersebut Ketua Wilayah IAI Riau apt. Adrian Mulya, http://M.KM, Ketua Daerah IAI Pekanbaru apt. Syafri, http://S.Farm, serta jajaran pimpinan STIFAR Riau.
Sumber : seputarriau.co
